Media Humas Polri//Ambon
POLDA MALUKU — Kapolda Maluku Irjen Pol Prof. Dr. Dadang Hartanto, S.H., S.I.K., M.Si., mendorong penguatan program inovatif Polima, Baileo Emarina dan optimalisasi peran Polsek sebagai basis pembinaan masyarakat serta deteksi dini dalam mencegah dan menangani potensi konflik sosial.
Arahan tersebut disampaikan Kapolda saat memimpin Rapat Koordinasi Analisis dan Evaluasi (Anev) Kamtibmas bersama Pejabat Utama Polda Maluku, Kapolres dan Kapolsek jajaran melalui konferensi video, di Ruang Command Center Polda Maluku, Selasa (15/9/2026).
Dalam rapat tersebut, Kapolda menyoroti pentingnya mengubah pola kerja kepolisian dari sekadar merespons kejadian menjadi lebih proaktif dalam membaca persoalan masyarakat. Menurutnya, kekuatan utama Polri dalam menjaga Kamtibmas tidak hanya terletak pada jumlah personel, tetapi juga pada kemampuan membangun kedekatan dan kepercayaan dengan masyarakat.

“Kedekatan Polisi dengan masyarakat harus diperkuat. Bagaimana masyarakat bisa proaktif dengan Polisi kalau mereka tidak mengenal Polisi yang bertugas di wilayahnya? Karena itu, Polima dan sambang Binmas harus benar-benar dijalankan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban,” tegas Dadang.
Dalam konteks tersebut, Kapolda menegaskan posisi Polsek sebagai ujung tombak kepolisian di tingkat kewilayahan harus diperkuat. Polsek dinilai memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan masyarakat sekaligus menjadi basis fungsi Binmas dan intelijen.
“Polsek harus diperkuat karena Polsek adalah basis Binmas dan intelijen. Peran Bhabinkamtibmas dan Polima serta baileo Emarina harus benar-benar dikedepankan sehingga personel di wilayah memiliki kewibawaan dan dihargai masyarakat sebagai tokoh yang bisa diandalkan,” kata Dadang.
Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan penguatan Polima, Baileo Emarina dan Polsek merupakan bagian dari strategi membangun kepolisian yang semakin dekat dengan masyarakat.
“Polima dan Baileo Emarina harus menjadi ruang interaksi yang nyata antara Polisi dan masyarakat. Bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga mendengar persoalan, membangun komunikasi dan mencari solusi bersama. Kedekatan seperti inilah yang menjadi modal penting dalam mencegah konflik,” ujar Rositah.
(OngenLeano)










