Cegah Karhutla Meluas Polda Jateng Tingkatkan Patroli dan Edukasi kepada Masyarakat Selama Musim Kemarau

oleh -28 Dilihat

Media Humas Polri//Jateng

Polda Jateng – Memasuki puncak musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Jawa Tengah terus meningkat. Salah satu kejadian terbaru terjadi di Kabupaten Banyumas, ketika jajaran Polsek Ajibarang Polresta Banyumas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) bergerak cepat memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Petak 32 Perhutani Banyumas Barat, Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang, pada Kamis (30/7/2026).

Berkat sinergi seluruh unsur yang terlibat, kobaran api berhasil dipadamkan sekitar pukul 14.02 WIB, sehingga tidak sempat meluas ke kawasan hutan di sekitarnya. Respons cepat tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk meminimalkan dampak kebakaran sekaligus melindungi kawasan hutan dari kerusakan yang lebih besar.

Selain di Banyumas, dalam sepekan terakhir kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di sejumlah wilayah lain, di antaranya Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Pati, dan Grobogan. Seluruh kejadian berhasil ditangani oleh petugas gabungan, namun menjadi pengingat bahwa kewaspadaan dan kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas selama musim kemarau.

Di Kabupaten Wonogiri, kebakaran hutan rakyat terjadi pada 22 Juli 2026 di Desa Tempursari, Kecamatan Sidoharjo. Berkat kerja sama Polri, TNI, BPBD, pemerintah daerah, relawan, dan masyarakat, api berhasil dipadamkan sebelum merambat ke kawasan yang lebih luas.

Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Sukoharjo dan Grobogan. Dalam beberapa kejadian selama sepekan terakhir, petugas gabungan bergerak cepat melakukan pemadaman dan pendinginan sehingga kobaran api dapat dikendalikan dan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar.

Sementara itu, di Kabupaten Pati, jajaran Polresta Pati secara aktif menindaklanjuti sejumlah titik panas (hotspot) yang terpantau melalui citra satelit NASA dan aplikasi Sipongi pada 29 hingga 30 Juli 2026 di wilayah Kayen, Sukolilo, Pucakwangi, dan Wedarijaksa. Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan sebagian besar hotspot berasal dari pembakaran sisa hasil pertanian, seperti daun tebu, batang jagung, janggel jagung, maupun semak belukar yang telah padam. Meski demikian, petugas tetap melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa sekaligus mengedukasi masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.

Belajar dari sejumlah kejadian tersebut, Kabid Humas Polda Jateng Kombespol. Yuliyanto mengatakan bahwa pihaknya terus memperkuat langkah-langkah pencegahan. Seluruh Polres jajaran diinstruksikan meningkatkan patroli di kawasan hutan, perkebunan, lahan pertanian, serta wilayah lain yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran selama musim kemarau.

” Selain melakukan patroli, pemantauan hotspot berbasis data satelit juga terus dioptimalkan. Setiap titik panas yang terdeteksi segera diverifikasi oleh personel di lapangan agar kondisi sebenarnya dapat diketahui secepat mungkin, Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar ” ungkapnya. Jumat (31/7).

Lebih lanjut Kombes Pol. Yuliyanto, juga mengatakan bahwa sebagian besar kebakaran lahan pada musim kemarau berawal dari aktivitas manusia yang kurang memperhatikan faktor keselamatan, terutama saat membersihkan lahan atau membakar sisa hasil panen.

“Musim kemarau ditambah hembusan angin, api yang awalnya kecil bisa dengan cepat merambat dan sulit dikendalikan. Karena itu kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan maupun sisa hasil pertanian tanpa pengawasan. Kalau memang terpaksa dilakukan, pastikan benar-benar aman dan jangan meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam,” ujar Kombes Pol. Yuliyanto.

Ia menambahkan, Polda Jawa Tengah akan terus memperkuat patroli, meningkatkan pemantauan hotspot, serta mempererat koordinasi dengan BPBD, TNI, Perhutani, pemerintah daerah, pemerintah desa, hingga kelompok masyarakat. Menurutnya, keberhasilan mencegah karhutla tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan partisipasi aktif seluruh masyarakat.

” Selain merusak lingkungan Karhutla juga dapat mengganggu kesehatan, merugikan sektor pertanian, bahkan membahayakan keselamatan jiwa. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Apabila melihat adanya titik api atau kepulan asap, segera laporkan kepada kepolisian atau instansi terkait agar dapat segera ditangani. Dengan kepedulian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat, kita dapat mencegah karhutla dan menjaga Jawa Tengah tetap aman serta kondusif,” pungkasnya.

(Zaenal MHP)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.