Api Berawal dari Gudang Kosong 9 Bangunan di Sungai Jaranih Ikut Terbakar

oleh -64 Dilihat

Media Humas Polri//Pojokbanua

BARABAI – Kebakaran terjadi di Desa Sungai Jaranih RT 005 RW 003, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kamis (10/9/2026) malam. Api menghanguskan sembilan bangunan dan merusak tiga rumah lainnya.

Warga setempat, Udin, mengatakan api pertama kali terlihat dari sebuah bangunan kayu milik H Anwar yang digunakan sebagai gudang. Bangunan tersebut dalam kondisi kosong dan tidak dihuni.

“Api pertama kali terlihat dari gudang milik H Anwar. Saat itu bangunannya kosong dan tidak ada yang menempati,” ujar Udin.

Api kemudian dengan cepat membesar dan merambat ke bangunan di sekitarnya. Dugaan sementara, kebakaran dipicu korsleting listrik. Namun, penyebab pasti masih belum dapat dipastikan.

“Untuk sementara diduga karena korsleting listrik, tetapi penyebab pastinya belum diketahui,” katanya.

Kobaran api semakin membesar karena di sekitar lokasi terdapat kios penjualan BBM eceran atau pom mini. Kondisi tersebut turut meningkatkan risiko api menjalar ke bangunan lainnya.

Padatnya permukiman juga membuat kobaran api cepat berpindah. Rumah-rumah yang berdempetan menyebabkan api menjalar dari bangunan di pinggir jalan hingga ke rumah-rumah yang berada di dalam gang.

Warga berupaya menyelamatkan barang-barang yang masih bisa dikeluarkan dari rumah. Sementara api terus membesar dan mendekati bangunan lain di sekitar lokasi.

Proses pemadaman turut terkendala akses menuju permukiman. Jalan desa yang menjadi jalur menuju lokasi tergolong sempit. Selain itu, akses kendaraan roda empat dan kendaraan pemadam dari jalur tertentu sedang ditutup karena pembangunan jembatan.

“Jalan masuknya sempit dan ada akses yang ditutup karena pembangunan jembatan. Jadi kendaraan pemadam harus mencari jalan alternatif,” ujar Udin.

Jalur alternatif membuat kendaraan pemadam harus menempuh jarak lebih jauh. Kondisi tersebut menjadi kendala ketika api terus merambat di antara bangunan yang berdekatan.

Kendala lainnya adalah ketersediaan air. Kondisi kemarau membuat sumber air yang dapat digunakan untuk penyedotan mesin portabel pemadam cukup sulit diperoleh.

“Air juga menjadi kendala karena sekarang masih kemarau. Sumber air untuk pemadaman cukup sulit didapat,” katanya.

Akibat kebakaran tersebut, sembilan bangunan mengalami kerusakan 100 persen. Bangunan tersebut milik Nursehan, Surbin, H Anwar, Sufiani, Jumberi, M Ilmi, Lamsiah, dan Nursihan, termasuk satu bangunan milik H Anwar yang digunakan sebagai gudang.

Sementara itu, tiga rumah lainnya mengalami kerusakan sebagian. Rumah milik Arbain mengalami kerusakan sekitar 30 persen, Muhammad Razikin sekitar 20 persen, dan Mahyudin sekitar 15 persen.

Totalnya terdapat 12 rumah atau bangunan yang terdampak dalam peristiwa kebakaran tersebut.

Udin menyebut cepatnya api menjalar dipengaruhi kondisi permukiman yang cukup padat. Jarak antar rumah yang berdekatan membuat kobaran api mudah berpindah dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

“Rumah di sini cukup berdempetan. Jadi ketika api membesar, cepat sekali menjalar ke bangunan di sebelahnya,” katanya.

Kebakaran tersebut membuat sejumlah bangunan warga tidak dapat digunakan lagi. Peristiwa ini juga terjadi saat kemarau masih berlangsung, sehingga keterbatasan akses dan sumber air menjadi tantangan dalam penanganan kebakaran. (AS)

Ket foto

Kebakaran yang terjadi di Desa Sungai Jaranih, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten HST. (Foto: Rio untuk Pojokbanua)

(Irfani)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.