Memasuki Usia 46 Tahun Walhi Ajak Pertobatan Ekologis

oleh -8 Dilihat

Media Humas Polri// kalsel

Sedikit NGO yang mampu bertahan berpuluh tahun, dan konsisten dengan isu yang terus disuarakannya, salah satu yang sedikit itu tentu saja Walhi – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia.

Lantang menyuarakan persoalan lingkungan, bahkan sejak pemerintahan Orde Baru yang otoritarian sedang kuat-kuatnya, termasuk di Kalimantan Selatan.

Tahun 2026 ini, Walhi memasuki usia ke 46, mereka mengajak melakukan pertobatan ekologis. Tema yang diusung dalam rangka merayakan ulang tahun ke 46 “Triple Planetary Crisis: Saatnya Pertobatan Ekologis Melawan Krisis Iklim, Polusi, dan Kepunahan Hayati”.

Tidak dapat dipungkiri, manusia terus melakukan kerusakan. Hutan dibabat dan digunduli, gunung dibongkar untuk tambang, menyebabkan krisis iklim. Suhu bumi makin “panas manggantang” dan cuaca kemudian menjadi sangat ekstrim. Polusi juga tak terhindarkan, mulai dari polusi udara dengan kabut asap “palak” sa alaman, polusi suara dan kebisingan, dan polusi berupa pencemaran yang menyeluruh dari darat, sungai dan lautan. Tak terelakkan, mengakibatkan kepunahan hayati. Ketika hayati menjadi punah, maka manusia pasti juga akan punah.

Ketiga krisis yang dikhawatirkan Walhi tersebut saling memperparah satu dengan lainnya. Dari hari ke hari, di sebagian bumi yang manusianya tidak pernah sadar atas kondisi lingkungan yang semakin buruk, justru terus berlomba melakukan eksploitasi. Termasuk di Indonesia dan Kalimantan Selatan. Dampaknya menyeluruh, termasuk daerah-daerah yang tidak merusak, karena perubahan iklim meliputi seluruh planet ini.

Tidak berlebihan kalau Walhi mengajak melakukan pertobatan ekologis. Tobat secara bersama-sama, karena kerusakan yang terus dilakukan, tidak ubahnya seperti menggali lubang kubur bagi diri sendiri. Mempercepat kepunahan seluruh kehidupan yang pada akhirnya mengundang percepatan kiamat.

Tapi siapa yang utama harus bertobat, kalau segala krisis ekologis yang terjadi, bermula dari masalah struktural?

Bukankah kerusakan ekologis menjadi semakin parah, karena sistem dan tata kelola, serta aturan maupun regulasi yang berhubungan dengan lingkungan, memang dibuat untuk merusak lingkungan itu sendiri?

Aturannya memang curang dan tidak memberikan keadilan pada lingkungan. Termasuk tidak adil antar generasi. Sehingga generasi selanjutnya, hanya ditinggali kerusakan dan kondisi lingkungan yang semakin buruk.

Sebab itu, pertobatan paling utama adalah pertobatan terkait tata kelola lingkungan. Dimulai dengan mengevaluasi seluruh izin yang menyebabkan lingkungan rusak, setelah itu menolak izin baru dan kemudian perlahan-lahan melalui pengelolaan yang ramah dan berkelanjutan, memulihkan lahan-lahan yang sudah rusak.

Kita ingin bumi ini menopang kehidupan manusia lebih lama lagi, sebab itu harus dijaga dari kerusakan, bukan sebaliknya, menjadi promotor dan pelaku kerusakan itu sendiri.

Selama 46 tahun, Walhi tanpa lelah mengingatkan, dan bahkan kali ini mengajak untuk bertobat bersama-sama. Tobat dengan sebenar-benarnya tobat. Tentu saja dimulai dari kesadaran bahwa bumi harus diselamatkan dari krisis, agar kehidupan tetap berlanjut – berkesinambungan secara adil.

(Irfani)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.