Menggagas Sahabat Jurnal Perempuan di Banjarmasin

oleh -57 Dilihat

Media Humas Polri//kalsel

Sejumlah aktivis yang terhimpun dalam Sahabat Jurnal Perempuan (SJP), berdiskusi di Rumah Alam Sungai Andai, Rabu, 7 Oktober 2026. Membicarakan isu-isu terkait perempuan yang ada di Kalimantan Selatan. Dialog ini memanfaatkan kedatangan Pimpinan Redaksi Jurnal Perempaun, Patricia Beata Kurnia.

Jurnal Perempuan (JP) sendiri merupakan jurnal feminis pertama di Indonesia, didirikan tahun 1996, mengangkat isu-isu gender dan menjadi referensi dalam berbagai advokasi mengenai hak-hak perempuan. Jurnal ini ditulis secara ilmiah dan berbasis pada penelitian, sehingga menjadi referensi berbagai lembaga yang bekerja dalam isu perempuan dan keseteraan gender. Bahkan publikasi JP juga digunakan untuk pelatihan isu-isu gender oleh organisasi perempuan dan menjadi referensi utama di berbagai universitas di Indonesia

Sahabat Jurnal Perempuan (SJP) itu sendiri, merupakan pembaca setia dari Jurnal Perempuan (JP). Datang dari berbagai kalangan dan menyuarakan segala kegelisahan terkait isu-isu yang berhubungan dengan perempuan. Pagi itu, sejumlah isu diangkat dalam obrolan santai di rumah alam, antara lain yang menonjol dibicarakan, masih tingginya angka pernikahan dini, yang berujung pada makin maraknya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Bukan hanya KDRT berbentuk kekerasan fisik dan verbal, namun juga finansial. Intensitasnya meningkat pada saat krisis ekonomi menghimpit semua kalangan masyarakat, seperti terjadi sekarang ini.

Termasuk isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan dan sumber daya alam. Ternyata kerusakan lingkungan akibat ekploitasi sumber daya alam yang membabi buta, berdampak pada perempuan dan anak.

Bahkan perempuan dan anak, menjadi pihak paling menderita dari rusaknya alam dan lingkungan hidup, termasuk karhutla yang berbuah kabut asap yang sekarang melanda hampir seluruh Kalimantan.

Patricia Beata Kurnia, menggali berbagai isu dari peserta yang hadir dan turut menimpali sejumlah isu yang juga terjadi di berbagai tempat di Indonesia, terutama menyangkut masih kuatnya budaya patriarki yang menyebabkan ketidak setaraan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

“Walau sudah lama diperjuangkan, namun karena latar sosial budaya yang kerap masih mendiskriminasi perempuan, maka berbagai perlakuan yang tidak adil selalu terjadi”, kata Patricia

Turut hadir dalam diskusi sejumlah aktivis perempuan dan pemerhati isu-isu gender, antara lain Ida Adul, Antonida Ida, Nyoman Suwarniki, Maudya, Soraya, Salsa, Intan, Echa, Ware, Rafiqah, Dita, Berry, Noorhalis, dan sejumlah peserta lainnya.

Patricia juga menggali upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh para aktivis di Kalimantan Selatan terkait penguatan perempuan. Sejumlah kegiatan dalam rangka penguatan perempuan, baik yang dilakukan oleh CSO, Perguruan Tinggi, lembaga keagamaan dan pemerintah daerah, disampaikan, namun diakui berbagai isu menyangkut diskriminasi, kekerasan segala tindakan yang tidak adil terhadap perempuan, tetap saja terjadi, termasuk isu-isu kekerasan dan perlakuan yang berujung pada tindakan hukum.

Mengingat pentingnya diskusi menyangkut isu-isu perempuan dan mendorong advokasi berbagai persoalan terkait pembelaan dan penguatan perempuan, disepakati oleh semua yang hadir ada forum SJP minimal 3 bulanan, mempertemukan SJP yang ada di Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Forum 3 bulanan tersebut dipilih, mengikuti kalender penerbitan dari Jurnal Perempuan itu sendiri.

(Irfani)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.