Perkuat Benteng Kampung dari Ancaman Narkoba Polresta Banjarmasin Latih Hampir 100 Relawan KBDN

oleh -44 Dilihat

Media Humas Polri//BANJARMASIN, 5 November 2026

Upaya mewujudkan lingkungan masyarakat yang bersih dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika terus diperkuat di Kota Banjarmasin. Salah satunya melalui Pelatihan Satuan Tugas (Satgas) Relawan Kampung Bebas dari Narkoba (KBDN) se-Kota Banjarmasin yang resmi digelar pada Kamis (5/11/2026).

Kegiatan yang dibuka langsung Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin, S.I.K., S.H., M.H., tersebut diikuti hampir 100 relawan dari tiga Poskamling Warga atau kelompok Relawan KBDN.

Pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, hingga penanganan awal terhadap ancaman penyalahgunaan narkoba di lingkungan masing-masing.

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar, M.Si., jajaran Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Banjarmasin, perwakilan Kejaksaan, advokat, tokoh agama, serta perwakilan dari tiga kelurahan, yakni Kelurahan Telawang, Kelurahan Teluk Tiram, dan satu kelurahan di wilayah Banjarmasin Selatan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan kuatnya komitmen bersama antara pemerintah daerah, kepolisian, lembaga penegak hukum, dan masyarakat dalam membangun gerakan pencegahan narkoba yang terstruktur dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Riza Muttaqin menegaskan bahwa upaya pemberantasan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada kepolisian. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, terutama warga yang memahami secara langsung kondisi sosial dan dinamika lingkungan tempat tinggalnya.

Menurutnya, keberadaan relawan KBDN memiliki posisi penting karena mereka menjadi bagian terdekat dari masyarakat dan dapat membantu mengenali potensi penyalahgunaan narkoba sejak dini.

 

“Polisi tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi ancaman narkoba. Dibutuhkan kepedulian dan keberanian masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungannya. Relawan adalah mitra strategis kepolisian yang menjadi mata dan telinga dalam upaya menciptakan kampung yang aman dan bebas dari narkoba,” tegasnya.

Ia juga berharap para relawan tidak hanya memahami materi yang diberikan selama pelatihan, tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat melalui edukasi, kepedulian, serta koordinasi dengan aparat terkait.

“Jangan sampai kita baru bergerak ketika narkoba sudah merusak keluarga dan masa depan generasi muda. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, dari keluarga, tetangga, hingga komunitas masyarakat,” menjadi pesan penting dalam kegiatan tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin Ichrom Muftezar, M.Si., menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Kota Banjarmasin terhadap penguatan gerakan Kampung Bebas dari Narkoba.

Ia menilai pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari investasi sosial untuk membangun masyarakat yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kemampuan dalam menghadapi persoalan narkoba.

“Relawan harus menjadi bagian dari solusi di tengah masyarakat. Mereka perlu dibekali pengetahuan dan kemampuan agar dapat melakukan pencegahan, mengenali tanda-tanda awal penyalahgunaan narkoba, sekaligus memberikan pendampingan yang tepat kepada warga yang membutuhkan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa penanganan persoalan narkoba harus mengedepankan pendekatan yang bijaksana dan manusiawi.

“Jangan hanya melihat persoalan narkoba dari sisi penindakan. Ada aspek kemanusiaan yang harus diperhatikan. Mereka yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba membutuhkan pendampingan, kesempatan untuk pulih, dan dukungan agar dapat kembali menjalani kehidupan secara produktif,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan menghadirkan sejumlah narasumber dari Polresta Banjarmasin, BNN Kota Banjarmasin, serta Yayasan Rehabilitasi Kobra (Korban Narkoba) yang dipimpin Maulana.

Materi diberikan secara bertahap, mulai dari pengenalan berbagai jenis narkotika dan dampak penyalahgunaannya, ciri-ciri awal seseorang yang terindikasi menggunakan narkoba, teknik pendekatan kepada masyarakat, hingga mekanisme pemulihan dan rujukan rehabilitasi.

Para relawan juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan keluarga maupun warga yang terdampak penyalahgunaan narkoba.

Salah satu pesan penting yang mengemuka dalam pelatihan tersebut adalah bahwa korban penyalahgunaan narkoba tidak seharusnya dikucilkan atau dijauhi. Sebaliknya, mereka perlu dirangkul, didampingi, dan diberikan kesempatan untuk mendapatkan pemulihan.

Perwakilan Yayasan Rehabilitasi Kobra, Maulana, menekankan bahwa proses rehabilitasi bukan sekadar menghentikan ketergantungan terhadap narkoba, tetapi juga memulihkan kondisi psikologis, rasa percaya diri, serta hubungan sosial dan keluarga.

“Jangan pernah menganggap seseorng yang terjerat narkoba sudah kehilangan masa depannya. Mereka tetap memiliki kesempatan untuk pulih. Yang dibutuhkan adalah kepedulian, pendampingan, dan lingkungan yang mau menerima mereka kembali,” menjadi pesan kemanusiaan yang disampaikan dalam sesi pelatihan.

Menurutnya, dukungan masyarakat sangat menentukan keberhasilan proses pemulihan. Stigma dan pengucilan justru dapat menjadi hambatan bagi korban untuk mencari pertolongan.

 

Suasana pelatihan berlangsung serius, tetapi tetap hangat dan interaktif. Hampir 100 peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, aktif mengajukan pertanyaan, mencatat materi, serta berdiskusi langsung dengan para narasumber.

 

Sejumlah peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru, khususnya mengenai pentingnya membedakan pendekatan terhadap pelaku peredaran narkoba dan masyarakat yang menjadi korban penyalahgunaan.

 

Kesadaran bahwa korban narkoba membutuhkan pertolongan dan pendampingan, bukan pengucilan, menjadi salah satu pemahaman penting yang diharapkan dapat diterapkan para relawan ketika kembali ke lingkungan masing-masing.

 

Di akhir kegiatan, seluruh peserta sepakat memperkuat koordinasi dan komunikasi antara Poskamling, pemerintah kelurahan, kepolisian, BNN, serta unsur masyarakat lainnya.

 

Pelatihan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan gerakan KBDN yang tidak berhenti pada kegiatan formal, tetapi berkembang menjadi aksi nyata di tengah masyarakat.

 

Dengan keterlibatan aktif para relawan, sinergi lintas instansi, serta dukungan pemerintah daerah, Kota Banjarmasin diharapkan mampu membangun benteng sosial yang kuat dalam menghadapi ancaman narkoba.

 

Sebab, kampung yang benar-benar bebas narkoba tidak cukup diwujudkan melalui slogan dan imbauan. Dibutuhkan kepedulian, keberanian untuk bertindak, serta komitmen bersama untuk melindungi keluarga dan menyelamatkan masa depan generasi muda.

“Bersama masyarakat, cegah narkoba sejak dini. Wujudkan Banjarmasin yang sehat, aman, dan bersinar (Bersih Narkoba).

(Irfani)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.