Syukur Maulud Sukarni Dosen UIN Antasari

oleh -39 Dilihat

Media Humas Polri//Banjarmasin

Istilah “maulud” satu akar kata dengan “maulid” dan “milad”, namun memiliki arti yang berbeda.

Dalam bahasa Arab, perubahan lafal, meskipun sedikit, dapat mengubah makna.

Maulūd berarti “yang dilahirkan”, berasal dari kata walada yang berarti melahirkan. Sementara mawlid berarti tempat atau waktu kelahiran. Adapun mīlād juga berkaitan dengan kelahiran, terutama menunjuk pada waktu atau momentum kelahiran.

Dalam tata bahasa Arab, maulūd termasuk ism maf‘ūl, sedangkan mawlid dapat berfungsi sebagai ism makān atau ism zamān. Dengan demikian, “syukur maulud” dapat kita maknai sebagai ungkapan kesyukuran atas telah dilahirkannya Nabi Muhammad SAW.

Syukur itu menjadi semakin bermakna apabila kita melihat kelahiran Nabi Muhammad bukan sebagai peristiwa individual semata, melainkan sebagai peristiwa yang membawa perubahan besar dalam sejarah kemanusiaan.

Nabi Muhammad lahir pada sebuah zaman ketika dunia, khususnya kawasan Timur Tengah, sedang mengalami berbagai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan.

Dengan kata lain, kelahiran Nabi Muhammad terjadi pada saat dunia memang sedang membutuhkan seorang pembaharu.

Philip K. Hitti dalam History of the Arabs menggambarkan kondisi dunia Arab dan lingkungan politik di sekitarnya pada masa menjelang kelahiran Nabi Muhammad.

Persaingan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia tidak hanya menjadi konflik antara dua kekuatan besar, tetapi juga ikut menciptakan ketegangan dan instabilitas di berbagai wilayah.

Di Jazirah Arab sendiri, kehidupan masyarakat menghadapi berbagai persoalan. Persaingan antarkabilah, praktik perdagangan yang tidak sehat, perbudakan, kesenjangan sosial, dan lemahnya perlindungan terhadap kelompok yang rentan menjadi bagian dari realitas kehidupan masyarakat ketika itu.

Di tengah kondisi semacam itulah Nabi Muhammad saw. dilahirkan. Beliau lahir di Makkah, sekitar tahun 570–571 M, dalam lingkungan masyarakat yang secara ekonomi mulai berkembang karena posisi Makkah sebagai pusat perdagangan, tetapi secara sosial masih menghadapi banyak persoalan.

Kekayaan belum selalu melahirkan keadilan. Kekuatan belum tentu berjalan bersama kebenaran.

Hubungan sosial masih sangat dipengaruhi oleh ikatan kesukuan. Yang kuat memperoleh perlindungan, sementara yang lemah sering berada dalam posisi yang tidak berdaya.

Karena itu, kelahiran Muhammad dapat dilihat sebagai awal dari sebuah babak baru. Ia bukan sekadar kelahiran seorang anak di tengah keluarga Quraisy, tetapi kelahiran seorang manusia yang kelak membawa risalah yang mengubah cara manusia memandang Tuhan, sesama manusia, kehidupan, bahkan alam semesta.

Al-Qur’an memberikan isyarat menarik tentang kedatangan Nabi Muhammad melalui dialog Nabi Isa a.s. dengan Bani Israil. Dalam QS. al-Shaff [61]: 6, Nabi Isa menyampaikan kabar gembira tentang akan datangnya seorang rasul sesudahnya yang bernama Ahmad. Ayat tersebut menunjukkan bahwa kedatangan Nabi Muhammad bukanlah sebuah peristiwa yang sama sekali terputus dari sejarah kenabian sebelumnya. Ia merupakan bagian dari mata rantai panjang risalah Tuhan kepada umat manusia.

Pesan ini penting untuk kita renungkan. Nabi Muhammad bukan hanya “milik” masyarakat Arab, bukan hanya tokoh sejarah bagi umat Islam, dan bukan sekadar figur yang lahir pada abad keenam. Risalah yang dibawanya memiliki dimensi yang jauh lebih luas. Al-Qur’an bahkan menyebut beliau sebagai rahmatan lil-‘ālamīn, rahmat bagi seluruh alam (QS. al-Anbiya’ [21]: 107).

Maka, ketika kita memperingati maulud, sesungguhnya yang kita syukuri bukan sekadar sebuah tanggal kelahiran. Kita mensyukuri hadirnya seorang pembawa rahmat. Kita mensyukuri hadirnya seorang pembaharu. Kita mensyukuri hadirnya seorang rasul yang mengubah masyarakat dari kehidupan yang penuh ketidakadilan menuju kehidupan yang dibangun di atas tauhid, akhlak, persaudaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Di sinilah makna “syukur maulud” menjadi lebih dalam. Syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan, tidak pula berhenti pada pembacaan salawat dan kisah-kisah tentang Rasulullah. Syukur seharusnya melahirkan kesadaran bahwa kelahiran Nabi Muhammad membawa sebuah misi perubahan. Jika Beliau dahulu hadir untuk memperbaiki masyarakat yang dilanda ketidakadilan, maka umatnya hari ini semestinya meneruskan semangat perubahan itu dalam kehidupan masing-masing.

Kita mungkin tidak lagi hidup dalam masyarakat Makkah abad keenam. Namun, problem kemanusiaan tidak pernah benar-benar hilang. Bentuknya saja yang berubah. Perbudakan mungkin telah dilarang secara formal, tetapi eksploitasi manusia masih terjadi. Perdagangan semakin modern, tetapi praktik ekonomi yang tidak adil masih ditemukan. Ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat, tetapi kesenjangan sosial belum selesai. Teknologi semakin canggih, tetapi manusia masih berhadapan dengan krisis moral, krisis kemanusiaan, bahkan krisis lingkungan.

Karena itu, peringatan maulud semestinya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri : apa yang sudah berubah dalam diri kita setelah berkali-kali memperingati kelahiran Nabi? Apakah kecintaan kepada Rasulullah telah membuat kita lebih jujur? Apakah salawat telah membuat kita lebih santun? Apakah kisah kehidupan beliau telah membuat kita lebih peduli kepada orang miskin, anak yatim, tetangga, dan mereka yang lemah? Apakah kecintaan kepada Nabi telah mendorong kita untuk menjaga lingkungan dan tidak merusak alam?

Jika jawabannya belum, mungkin kita baru sampai pada syukur maulud secara seremonial, belum sampai pada syukur yang substantif.

Sebab, tanda syukur yang paling baik atas hadirnya seorang pembawa perubahan adalah ikut menghadirkan perubahan itu dalam kehidupan kita. Nabi Muhammad telah lahir lebih dari empat belas abad yang lalu, tetapi misi kenabian tidak seharusnya berhenti sebagai cerita masa lalu. Nilai-nilai yang Beliau bawa harus terus hidup dalam perilaku umatnya.

Dengan demikian, “syukur maulud” bukan hanya syukur karena Nabi Muhammad telah dilahirkan. Ia adalah syukur karena Allah telah menghadirkan melalui beliau sebuah risalah yang menerangi kehidupan manusia. Dan rasa syukur itu akan menjadi semakin bermakna apabila diwujudkan dengan menghadirkan kembali cahaya kenabian dalam kehidupan kita hari ini.

(Irfani)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.