UNUKASE Berduka atas Wafatnya H. Rudy Ariffin Banua Kehilangan Tokoh Panutan dan Sahabat Ulama

oleh -83 Dilihat

Media Humas Polri//MARTAPURA

Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE) turut menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya H. Rudy Ariffin, mantan Gubernur Kalimantan Selatan dua periode, pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 11.00 WITA di RS Amanah Banjarmasin. Almarhum meninggal dunia dalam usia 73 tahun.

Kepergian H. Rudy Ariffin menjadi kabar duka bagi masyarakat Kalimantan Selatan. Sosok yang pernah memimpin Banua selama dua periode tersebut dikenal sebagai birokrat, pemimpin daerah, serta tokoh yang memiliki kedekatan kuat dengan para ulama dan masyarakat.

Usai meninggal dunia, jenazah almarhum dibawa dari RS Amanah Banjarmasin menuju Masjid Al Jihad untuk dilaksanakan salat jenazah setelah Salat Zuhur. Selanjutnya, jenazah dibawa menuju rumah duka di Banjarbaru.

Pada sore harinya, jenazah kembali dibawa ke Masjid Agung Al-Karomah Martapura untuk disalatkan. Setelah itu, almarhum dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Landasan Ulin, Kota Banjarbaru.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (UNUKASE), Dr. Ir. H. Abrani Sulaiman, M.Sc., menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya salah satu tokoh besar Kalimantan Selatan tersebut.

“Kita merasa sangat kehilangan seorang tokoh panutan dan birokrat daerah. Sangat banyak prestasi pembangunan yang telah beliau persembahkan untuk Banua. Pak Rudy dikenang sebagai salah satu umara yang sangat dekat dengan ulama dan merupakan salah satu tokoh senior NU di Banua yang memiliki jasa besar dalam pembangunan fasilitas umat,” ujar Rektor UNUKASE.

Menurut Abrani Sulaiman, salah satu jejak penting pengabdian H. Rudy Ariffin bagi Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan adalah pembangunan Gedung Dakwah NU yang kini menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama di Banua.

“Bagi NU Banua, ketika menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Selatan, beliau telah membangun Gedung Dakwah NU yang saat ini menjadi Gedung Rektorat Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan di Jalan A. Yani Km 12.500 Gambut. Ini merupakan salah satu jasa besar beliau yang akan terus dikenang,” ungkapnya.

Rektor UNUKASE juga mengajak seluruh sivitas akademika dan masyarakat Kalimantan Selatan untuk mendoakan almarhum agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

“Kita semua mendoakan semoga almarhum H. Rudy Ariffin mendapatkan rahmat dan magfirah Allah SWT, memperoleh syafaat Rasulullah SAW, serta ditempatkan di surga Firdaus bersama orang-orang saleh. Keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan dan kekuatan,” tuturnya.

Dari Birokrat hingga Gubernur Kalimantan Selatan

Wafatnya H. Rudy Ariffin menutup perjalanan panjang pengabdian seorang putra Banua yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk masyarakat dan pemerintahan.

Karier H. Rudy Ariffin di pemerintahan dimulai dari jenjang bawah. Setelah diangkat sebagai pegawai pada tahun 1975, ia meniti karier sebagai Mantri Pamong Praja (MPP) di Kecamatan Sungai Tabuk.

Kariernya kemudian terus berkembang melalui sejumlah jabatan di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Almarhum pernah bertugas di Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7), bidang pendidikan dan pelatihan, hingga Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.

H. Rudy Ariffin juga pernah dipercaya sebagai Kepala Biro Keuangan Sekretariat Wilayah Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan sebelum kemudian menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Daerah Tingkat II Banjar.

Perjalanan kariernya memasuki babak baru ketika dipercaya menjadi Bupati Banjar pada tahun 2000. Selama memimpin Kabupaten Banjar, almarhum meninggalkan sejumlah jejak pembangunan yang hingga kini masih dikenang masyarakat.

Salah satu jejak penting yang melekat dalam perjalanan pengabdiannya adalah pemugaran Masjid Agung Al-Karomah Martapura, salah satu ikon keagamaan masyarakat Kalimantan Selatan.

Kedekatan H. Rudy Ariffin dengan masyarakat dan para ulama juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya di Banua. Hubungan baik dengan tokoh agama terus terjalin, baik ketika menjabat sebagai Bupati Banjar maupun saat dipercaya memimpin Kalimantan Selatan.

Setelah memimpin Kabupaten Banjar, H. Rudy Ariffin melangkah ke tingkat pemerintahan provinsi. Ia dilantik sebagai Gubernur Kalimantan Selatan pada 5 Agustus 2005.

Pada periode pertama, H. Rudy Ariffin didampingi H. Rosehan NB sebagai Wakil Gubernur. Sementara pada periode berikutnya, ia berpasangan dengan H. Rudy Resnawan.

Selama sekitar satu dekade memimpin Kalimantan Selatan, berbagai pembangunan dilakukan di sejumlah sektor.

Di antaranya pembangunan Rumah Sakit Gigi dan Mulut, bantuan pembangunan Gedung Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, pembangunan Gedung Dakwah Nahdlatul Ulama yang kini menjadi Gedung Rektorat UNUKASE, perbaikan Jalan Trans Kalimantan, pembangunan SMA Banua, hingga pembangunan pusat perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru.

Pada masa kepemimpinannya pula diterapkan kebijakan pengaturan penggunaan jalan umum dan jalan khusus untuk angkutan hasil tambang dan perkebunan melalui Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2008.

Kebijakan tersebut mengatur larangan angkutan batu bara melintasi jalan umum dan mewajibkan perusahaan menggunakan jalan khusus.

Catatan pembangunan lainnya juga mencakup pengerukan alur ambang Sungai Barito, dorongan pembangunan pembangkit listrik di Asam-Asam, hingga berbagai program pembangunan daerah lainnya.

Jejak Pembangunan dan Perhatian terhadap Budaya Banjar

Salah satu warisan pembangunan yang paling dikenal dari masa kepemimpinan H. Rudy Ariffin adalah realisasi pembangunan pusat perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarbaru.

Gagasan pemindahan pusat perkantoran pemerintahan dari Banjarmasin ke Banjarbaru telah dirintis oleh para gubernur sebelumnya. Namun, pada masa kepemimpinan H. Rudy Ariffin, gagasan tersebut mulai diwujudkan melalui pembangunan kompleks perkantoran Pemprov Kalsel di kawasan Trikora, Palam, dan Guntung Upih.

Berbagai perangkat daerah kemudian mulai berkantor di kawasan tersebut. Perjalanan pemindahan pusat pemerintahan terus berlanjut hingga Banjarbaru kemudian ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan.

Pengabdian H. Rudy Ariffin juga tidak hanya tercatat melalui pembangunan fisik. Semasa memimpin Kalimantan Selatan, almarhum memberikan perhatian besar terhadap pelestarian kebudayaan Banjar.

Berbagai kegiatan seni dan budaya terus didorong. Pemerintah daerah pada masa itu juga memberikan ruang dan penghargaan kepada para seniman serta budayawan.

H. Rudy Ariffin turut mendukung pembentukan Lembaga Budaya Banjar Kalimantan Selatan serta berbagai kegiatan budaya, termasuk Festival Budaya Banjar dan Kongres Budaya Banjar yang melibatkan masyarakat Banjar, baik yang berada di daerah maupun di perantauan.

Almarhum juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang turut merintis Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB) Sedunia, sebuah wadah yang bertujuan mempererat silaturahmi, komunikasi, dan pemberdayaan masyarakat Banjar di Banua maupun di berbagai daerah perantauan.

Perhatian terhadap kemanusiaan juga turut mewarnai masa kepemimpinannya. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan pada masa itu turut terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk penggalangan bantuan bagi korban bencana.

Kini, perjalanan panjang H. Rudy Ariffin telah berakhir.

Dari seorang birokrat, Bupati Banjar, hingga dipercaya memimpin Kalimantan Selatan selama dua periode, jejak pengabdiannya membentang selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting dari perjalanan pembangunan Banua.

Bagi Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan, almarhum bukan hanya seorang mantan pemimpin daerah, tetapi juga tokoh yang memiliki jasa besar bagi Nahdlatul Ulama dan pengembangan fasilitas umat di Kalimantan Selatan.

Gedung yang dahulu dibangun sebagai Gedung Dakwah Nahdlatul Ulama kini terus menjadi saksi perjalanan perkembangan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama melalui Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan.

H. Rudy Ariffin telah berpulang, namun jejak pengabdian, pembangunan, serta kedekatannya dengan masyarakat dan para ulama akan terus menjadi bagian dari sejarah perjalanan Banua.

(Irfani)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.