Ada Apa Dengan PT Bima Palma Nugraha Di Bengalon  

oleh -7 Dilihat

Media Humas Polri//KUTAI TIMUR, BENGALON

Rasa kecewa mendalam kini menyelimuti para petani dan pemasok buah kelapa sawit di wilayah Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur. Beberapa hari terakhir, puluhan kendaraan yang mengantarkan buah ke PT Bima Palma Nugraha diperlakukan tidak adil: setiap kendaraan tiba dengan muatan rata-rata 7 hingga 8 ton, namun hanya sebagian yang diterima — sisanya 1 hingga 4 ton per kendaraan dikembalikan kepada pemasok.

“Apa arti harga tinggi kalau buah masyarakat dipermainkan?” — begitulah keluhan yang terdengar berulang kali dari warga yang sudah berpanas-panas memanen, memuat, dan mengantar buah dari jauh hingga ke lokasi pabrik.

Sebagian Diterima, Sebagian Dipulangkan — Kerugian Nyata

Buah yang dikembalikan kondisinya sudah menurun kualitasnya karena menunggu lama di atas kendaraan, sehingga nilainya turun drastis atau bahkan tidak laku dijual ke tempat lain. Kerugian petani berlipat ganda:

– Biaya panen dan tenaga untuk 7–8 ton buah

– Biaya angkut dan bahan bakar bolak-balik

– Sebagian buah ditolak padahal sudah diantar

– Waktu dan tenaga terbuang seharian penuh

Pertanyaan Mendesak Masyarakat

Warga mempertanyakan:

– Apa kriteria pasti penerimaan buah? Mengapa tidak dipajang secara terbuka di lokasi?

– Mengapa sebagian diterima, sebagian ditolak? Apakah ada standar tertulis yang dipegang?

– Apakah penolakan ini murni soal kualitas, atau ada alasan lain yang tidak dijelaskan?

Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kutim & Pemerintah Segera Tindak LanjutMerespons gelombang keluhan para petani, Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kabupaten Kutai Timur menyatakan akan segera menindaklanjuti permasalahan ini bersama unsur pemerintah daerah. FPKS Kutim bergerak untuk memastikan adanya kejelasan dari pihak perusahaan sekaligus menjamin hak-hak pekebun swadaya tidak dirugikan secara sepihak.

Langkah yang akan ditempuh:

1. Meminta kejelasan resmi dari pihak PT Bima Palma Nugraha terkait kriteria dan praktik penolakan buah

2. Memastikan kriteria penerimaan buah dipajang secara terbuka dan dipahami semua pemasok sebelum berangkat mengantar

3. Berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah agar tidak ada lagi praktik yang merugikan petani

Permintaan Warga

Para pemasok berharapan

– Ada kejelasan transparan sebelum mereka berangkat mengantar buah

– Tidak ada lagi buah yang dipulangkan dengan alasan yang tidak dimengerti

– Harga yang diumumkan diimbangi dengan penyerapan buah yang adil dan wajar

Kami sebagai media akan terus mengawal permasalahan ini sampai tuntas. Harga tinggi tidak ada artinya kalau jerih payah warga tidak dihargai secara adil. Keadilan untuk petani Bengalon adalah keadilan untuk seluruh masyarakat Kutai Timur

(Aldi)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.