Ketum ABR Indonesia Imbau Daerah Terdampak Abu Vulkanik Belajar dari Masyarakat Jogja Waspada dan Jaga Diri

oleh -64 Dilihat

Media Humas Polri // Lampung

Ketua Umum Advokat Bela Rakyat Indonesia (ABR Indonesia), Dr. (c) Hermawan, S.HI., M.H., C.M., SHEL, mengimbau masyarakat di daerah yang terdampak abu vulkanik untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga kesehatan dan keselamatan keluarga, serta tidak panik dalam menghadapi situasi bencana.

Hermawan mengajak masyarakat belajar dari pengalaman masyarakat Yogyakarta dan wilayah sekitar Gunung Merapi yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan aktivitas vulkanik melalui budaya kesiapsiagaan, kedisiplinan, gotong royong, serta kepatuhan terhadap informasi dan arahan pemerintah.

“Masyarakat Jogja memberikan pelajaran penting bahwa hidup berdampingan dengan risiko bencana membutuhkan kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Waspada, disiplin, saling membantu dan mengikuti informasi resmi adalah bagian dari upaya menyelamatkan diri dan keluarga,” ujar Hermawan.

Menurutnya, abu vulkanik bukan persoalan yang boleh dianggap sepele. Masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi abu cukup pekat, menggunakan masker dan pelindung mata, menjaga kebersihan lingkungan serta mengikuti arahan BPBD, pemerintah daerah, dan instansi kebencanaan terkait.

Hermawan juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

“Jangan terpancing kepanikan dan jangan menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. Dalam situasi bencana, informasi yang benar bisa menyelamatkan, sementara informasi yang keliru justru dapat membahayakan,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah dan masyarakat harus berjalan bersama. Pemerintah memiliki kewajiban memberikan perlindungan dan informasi yang cepat, sedangkan masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan diri, keluarga dan lingkungan

ABR Indonesia, lanjut Hermawan, mendorong agar penanganan dampak abu vulkanik dilakukan secara humanis, cepat dan berpihak kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan warga yang membutuhkan perhatian khusus.

“Jaga diri, jaga keluarga dan jaga lingkungan. Belajar dari Jogja: kuat bukan berarti mengabaikan bahaya, tetapi mampu hidup disiplin dan siap menghadapi risiko. Keselamatan rakyat harus menjadi prioritas bersama,” pungkasnya.(ATS)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.