Ratapan Paru-Paru Dunia Ketika Hutan Kehilangan Suara dan Satwa Kehilangan Rumah

oleh -32 Dilihat

Media Humas Polri //Lampung

Lampung Timur – Di ufuk timur, ketika matahari masih belajar menyentuh dedaunan, Way Kambas pernah bernapas dengan tenang. Embun menggantung di ujung ilalang, burung-burung menyulam lagu, dan langkah gajah Sumatra menjadi doa yang menggetarkan bumi. Harimau Sumatra berjalan tanpa takut kehilangan rumah, sementara badak Sumatra mengukir jejak yang diwariskan kepada waktu.

Kala itu, hutan bukan sekadar kumpulan pohon:

Ia adalah ibu.

Ia adalah rahim kehidupan.

Ia adalah paru-paru yang menghidupi dunia.

Namun, manusia adalah makhluk yang sering lupa.

Ketika keserakahan mulai menguasai hati, pohon-pohon tak lagi dipandang sebagai penyangga kehidupan, melainkan deretan angka yang bisa diperdagangkan. Sungai tak lagi dianggap nadi bumi, melainkan jalur menuju keuntungan. Dan hutan tak lagi dipeluk sebagai amanah, melainkan diperlakukan sebagai barang yang siap ditukar dengan ambisi.

Lalu datanglah mereka dengan membawa nama yang terdengar agung: pembangunan demi kepentingan negara.

Betapa indah kalimat itu diucapkan.

Namun, betapa pilunya ketika gema mesin lebih nyaring daripada suara alam.

Satu demi satu pohon tumbang.

Satu demi satu sarang kehilangan ranting.

Satu demi satu satwa kehilangan jalan pulang.

Gajah berjalan tanpa hutan.

Harimau berburu tanpa wilayah.

Badak bersembunyi di antara sisa-sisa harapan.

Burung-burung terbang mengelilingi langit, seolah bertanya kepada angin, “Di mana rumah kami kini?”.

Hukum seakan menjadi daun kering yang tertiup kepentingan. Amanah berubah menjadi komoditas. Nafsu dunia menari di atas luka bumi, sementara nurani perlahan dikubur bersama akar-akar yang tercerabut.

Konon, di balik gemerlap proyek dan janji-janji, beredar cerita tentang perebutan kepentingan yang melahirkan iri, kecewa, dan saling menjatuhkan.

Kisah-kisah itu berembus dari mulut ke mulut seperti angin yang membawa debu, menjadi cermin bahwa ketika keserakahan menjadi raja, keadilan sering kali kehilangan singgasananya.

Tetapi alam adalah kitab yang tidak pernah berbohong.

Ia mencatat setiap pohon yang ditebang.

Ia menghitung setiap mata air yang mengering.

Ia menghafal setiap jejak satwa yang lenyap.

Ia menjadi saksi bisu atas setiap amanah yang diabaikan.

Dan Tuhan…!

Tuhan tidak membutuhkan suara pengeras untuk mengingatkan manusia.:

Ia cukup membiarkan alam berbicara.

Lewat banjir yang datang tanpa diundang.

Lewat kemarau yang memanjangkan dahaga.

Lewat tanah yang retak.

Lewat satwa yang menghilang satu per satu.

Barangkali manusia mengira telah memenangkan dunia.

Padahal yang sedang dirayakan hanyalah kemenangan sesaat di atas reruntuhan kehidupan yang diwariskan kepada anak cucunya.

Wahai para penjaga amanah yang memilih berpaling…

Ingatlah, jabatan hanyalah sekejap,!

Proyek hanyalah sementara, keuntungan hanyalah titipan. Namun kerusakan yang ditinggalkan dapat hidup jauh lebih lama daripada nama para pelakunya.

Sebab sejarah akan selalu bertanya:?

“Siapa yang menjaga hutan ketika ia menangis?

Dan langit akan selalu menjawab dengan sunyi.

Karena pada akhirnya, bukan manusia yang mengadili seluruh perbuatan, melainkan Tuhan Yang Maha Adil, yang mengetahui setiap niat, setiap langkah, dan setiap amanah yang dijaga maupun yang dikhianati.

(ATS)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.