Sinergi TNI Dengan komponen Masyarakat Cegah Karhutla Sejak Dini 

oleh -78 Dilihat

Media Humas Polri//Lampung

Di tengah darurat asap itu, sekelompok perwira TNI Angkatan Darat memilih turun ke akar persoalan: Kelompok Kuliah Kerja Lapangan ( KKL ) Wilayah pertahanan dan Binaan Satuan ( Binsat ) Pendidikan reguler ( Dikreg) LXVIII Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya karhutla sejak dini.

Kegiatan di laksanakan di KDKMP Kelurahan Gunung Sugih Raya Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah Kamis (3/9/26

Bertajuk “Cegah Karhutla Sejak Dini, Wujudkan Wilayah Pertahanan yang Tangguh”, kegiatan ini menghadirkan jajaran pejabat tinggi militer: di antaranya Wadanseskoad Brigjen TNI Ade Rony Wijaya, S.E., M.M., Seskorsis Seskoad Kolonel Inf Bambang Kurnia Eka Putra,Dandim O411/KM,Letkol Inf Noval Darmawan.SH.MIP.serta sejumlah dosen dan patun dari Seskoad.

Penyuluhan berlangsung dari pukul 09.00 hingga 10.30 WIB. Para peserta berasal dari unsur kelompok tani dan komponen masyarakat setempat, Dinas terkait dan Siswa /i SMAN 1 Gunung Sugih

Materi yang disampaikan mencakup teknik pencegahan kebakaran lahan, pengenalan dini titik api, serta prosedur pelaporan ketika karhutla terdeteksi. “Sinergi TNI dan komponen masyarakat dalam membangun ketahanan wilayah terhadap karhutla adalah kunci memperkuat ketahanan nasional,” demikian bunyi salah satu materi penyuluhan.

Latar belakang kegiatan ini tidak bisa dilepaskan dari situasi kebencanaan yang kian memprihatinkan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kualitas udara di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat dan Lampung telah menembus level berbahaya.

Puluhan titik api masih terdeteksi, dan pembelajaran jarak jauh terpaksa diterapkan di sejumlah sekolah. di provinsi Lampung, jarak pandang bahkan turun di bawah satu kilometer.

Selanjutnya di perkirakan kerugian ekonomi karhutla sepanjang delapan bulan pertama tahun ini mencapai Rp 39,29—123,1 triliun. Angka itu setara 49,1 persen dari proyeksi Produk Domestik Regional

Di sinilah urgensinya penyuluhan semacam ini. Karhutla, seperti di ingatkan BNPB, kini bukan lagi monopoli Kalimantan dan Sumatera—telah merambat ke Indonesia Timur. Mencegah lebih murah dari pada memadamkan. Mengedukasi lebih strategis daripada sekadar menanggulangi.

Penyuluhan di Gunung Sugih itu memang hanya berlangsung 90 menit. Tapi pesannya jelas: ketahanan wilayah terhadap karhutla tidak akan terwujud tanpa peran aktif masyarakat. TNI mengambil peran sebagai fasilitator.

Serta pendamping, dan penggerak. Sisanya, pulang ke tangan warga di garda terdepan. Sebab api tak mengenal pangkat. Yang bisa memadamkan nya sejak awal hanyalah kewaspadaan kita bersama

#(Khairul Anam)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.