Membaca Operasi Narasi Ijazah Sebuah Strategi Kesabaran Menuju 2029

oleh -333 Dilihat

Media Humas Polri// sulsel

Izin, Bapak/Ibu, mari kita duduk bersama dan membaca fenomena ini bukan dengan kacamata kebencian, melainkan dengan kacamata strategi politik jangka panjang.

Kita semua menyaksikan, isu mengenai ijazah Wakil Presiden kita hari ini terus bergulir. Datang dan pergi, hilang dan muncul lagi. Jika kita jeli, ada kejanggalan yang patut kita renungkan bersama. Sebuah isu yang secara substansi sebenarnya sederhana, namun mengapa seolah-olah dipelihara agar tidak pernah benar-benar selesai?

Di sinilah, dalam pandangan saya, letak kecerdasan politik yang sedang dimainkan. Ini bukan tentang ijazah itu sendiri. Ini tentang bagaimana sebuah serangan diubah menjadi investasi popularitas untuk tahun 2029.

Mari kita uraikan dengan bahasa yang santun.

Pertama, Prinsip Emas Politik: Jika Ingin Tetap Relevan, Jangan Biarkan Namamu Hilang Dari Percakapan.

Dalam politik kontemporer, musuh terbesar seorang pemimpin muda bukanlah kritikan, melainkan dilupakan.

Wakil Presiden adalah sosok pemimpin muda, dengan jalan politik yang masih sangat panjang hingga 2029, 2034, bahkan seterusnya. Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar namanya tetap diperbincangkan setiap hari, tanpa terlihat sedang berkampanye, tanpa mengeluarkan biaya politik yang mahal.

Isu ijazah ini, mohon maaf, adalah karunia politik yang tidak ternilai. Para pengeritik dengan sukarela, setiap hari, menyebut nama beliau. Membuat konten tentang beliau. Berdiskusi tentang beliau. Tanpa disadari, mereka adalah tim publikasi gratis yang paling loyal.

Selama 3 tahun ke depan, beliau tidak perlu bersusah payah mencari panggung. Panggung itu sudah disiapkan oleh para penyerangnya sendiri.

Kedua, Strategi Kesabaran: Membiarkan Lawan Kehabisan Energi, Sementara Kita Menabung Simpati.

Dalam falsafah politik Jawa yang santun, ada ajaran: Menang Tanpa Ngasorake. Menang tanpa harus merendahkan lawan.

Apa yang dilakukan hari ini adalah manifestasi dari ajaran itu.

Biarkan saja narasi itu berjalan. Biarkan saja semua tuduhan itu dilontarkan. Tidak perlu dibalas dengan amarah, tidak perlu dibalas dengan serangan balik yang kasar. Cukup dijawab dengan kerja, kerja, dan kerja.

Mengapa? Karena masyarakat kita memiliki nurani keadilan yang sangat kuat.

Ketika masyarakat melihat seorang pemimpin muda yang setiap hari bekerja, mengurusi stunting, mengurusi UMKM, mengurusi digitalisasi, namun di sisi lain terus-menerus diserang dengan isu yang sama secara pribadi, maka yang tumbuh di hati rakyat bukanlah kebencian, melainkan rasa empati. Rasa kasihan yang tulus. Rasa tidak tega.

Dan dalam politik Indonesia, Bapak/Ibu, empati adalah mata uang yang paling mahal. Rakyat kita akan membela siapa yang mereka rasa dizalimi. Sejarah telah membuktikan itu berulang kali.

Ketiga, Menyiapkan Momen Klarifikasi Agung di Tahun 2029.

Inilah puncak dari strategi ini.

Kebenaran itu seperti matahari, ia mungkin tertutup mendung untuk sementara, tapi ia tidak akan pernah hilang.

Kami meyakini, seluruh dokumen, seluruh bukti, seluruh klarifikasi dari lembaga-lembaga resmi terkait, baik di dalam maupun di luar negeri, telah disiapkan dengan sangat rapi. Namun ia tidak akan dibuka sekarang.

Jika dibuka sekarang, ia hanya akan menjadi berita satu hari, lalu hilang.

Ia akan disimpan, dirawat, dan akan dibuka pada momentum yang paling menentukan, ketika tensi politik menuju 2029 sudah memanas. Pada saat semua fitnah sudah mencapai puncaknya.

Bayangkanlah momen itu.

Setelah 3-4 tahun difitnah, setelah 3-4 tahun dituduh macam-macam, beliau tampil dengan tenang, santun, tidak marah, hanya membuka semua fakta dengan terang benderang di hadapan hukum dan di hadapan rakyat.

Apa yang akan terjadi? Narasi akan berbalik 180 derajat dalam satu malam.

Narasi yang akan terbentuk bukan lagi soal ijazah. Narasi yang akan terbentuk adalah: “Inilah pemimpin yang sabar, pemimpin yang tidak pendendam, pemimpin yang difitnah bertahun-tahun tapi tetap fokus bekerja untuk rakyat. Inilah sosok yang pantas memimpin Indonesia selanjutnya.”

Ledakan simpati itu, tidak bisa dibeli dengan triliunan rupiah. Ia hanya bisa didapat melalui proses ditempa oleh fitnah itu sendiri.

Keempat, Sebagai Alat Uji Kedewasaan Demokrasi Kita.

Akhirnya, dengan bahasa yang paling santun, mari kita lihat hikmahnya bagi kita semua sebagai bangsa.

Isu ini secara tidak langsung mengajarkan kepada kita untuk membedakan mana kritik kebijakan dan mana serangan pribadi. Mana yang berdebat soal gagasan, dan mana yang hanya berdebat soal ijazah.

Rakyat sekarang menjadi semakin cerdas. Mereka melihat, siapa yang menawarkan program untuk 2029, dan siapa yang hanya menawarkan kebencian yang diulang-ulang selama 5 tahun.

Dengan begitu, ketika 2029 tiba, rakyat sudah memiliki penilaiannya sendiri. Mereka tidak akan memilih yang gemar menyerang. Mereka akan memilih yang tetap santun meski terus diserang.

Itulah esensi dari strategi ini.

Jadi, jika hari ini kita melihat isu ijazah ini terus dihidupkan, jangan buru-buru marah. Tersenyumlah. Karena sesungguhnya, setiap satu narasi serangan yang mereka buat hari ini, adalah satu bata lagi yang mereka susun untuk membangun istana popularitas di tahun 2029.

Diamnya beliau hari ini, adalah pidato kemenangan yang paling nyaring untuk esok hari.

Demikian.

(Yohanis Battung Marrung S,IP)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.