Tiga Kapolres Gagal Tuntaskan Kapolres Baru Toraja Utara Didesak Akhiri Misteri 3,5 Tahun Hilangnya Stoner Sammen

oleh -200 Dilihat

Media Humas Polri // Sulsel

Misteri hilangnya Stoner Sammen, pemuda Toraja Utara yang lenyap tanpa jejak selama tiga setengah tahun, akhirnya memasuki babak baru. Di tangan Kapolres baru, AKBP Yoseph Adi R. Sudrajat, kasus yang lama membeku di laci birokrasi itu kini ditangani dengan pendekatan yang jauh lebih serius, taktis, dan agresif.

Publik pun menaruh harapan besar. Di pundak AKBP Yoseph, kasus ini diharapkan tidak lagi menjadi warisan berantai yang terus diestafetkan dari satu Kapolres ke Kapolres berikutnya.

Tim Khusus Dibentuk, Olah TKP Ulang di Sungai Sa’dan

Belum genap sebulan menjabat pasca Sertijab awal Agustus 2026, AKBP Yoseph langsung menjawab tantangan. Ia membentuk Tim Satuan Khusus gabungan yang dikomandoi langsung Kabag Ops Polres Toraja Utara.

Tim ini bekerja linear dan responsif menerjemahkan instruksi Kapolres. Gerak cepat terlihat di lapangan:

1. Olah TKP Ulang Secara Menyeluruh: Tim melakukan pendalaman dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) ulang di sekitar kawasan Sungai Sa’dan, Lampan – lokasi yang menjadi titik kunci dalam laporan awal hilangnya Stoner.

2. Tracking Digital Forensik NIK: Ini menjadi terobosan baru. Secara intensif, penyidik memantau pergerakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) atas nama Stoner Sammen melalui koordinasi lintas instansi. Langkah ini untuk melacak jejak digital korban, apakah ada aktivitas pelayanan publik, perbankan, BPJS, hingga administrasi negara lain yang menggunakan identitas tersebut.

3. Pendekatan Humanis dan Transparansi: Berbeda dari sebelumnya, Polres kini membuka diri. Tim khusus mendatangi langsung kediaman keluarga korban untuk menggali keterangan dan benang merah yang mungkin terlewat. Kasat Reskrim IPTU Ruxson pun dinilai jauh lebih kooperatif, responsif terhadap konfirmasi media dan masyarakat.

Penasihat Hukum keluarga korban, Arni Yonathan, mengapresiasi langkah ini. Menurutnya, bukti permulaan untuk meningkatkan status perkara sebenarnya sudah cukup sejak lama. Yang dibutuhkan selama ini hanyalah political will atau kemauan manajerial dari pimpinan.

“Apa yang dilakukan AKBP Yoseph hari ini membuktikan bahwa kuncinya ada di keseriusan pimpinan,” ujarnya.

Potret Tiga Kapolres Sebelumnya

Mandeknya kasus Stoner selama 3,5 tahun tidak lepas dari dinamika internal kepemimpinan Polres Toraja Utara.

Pada masa AKBP Eko Suroso, Kapolres pertama yang menerima laporan, waktu menjadi kendala. Ia hanya memiliki sisa satu bulan masa dinas sebelum dimutasi, sehingga belum sempat melakukan pendalaman struktural.

Tantangan berbeda dihadapi AKBP Zulanda. Di masanya, seluruh energi Polres terkuras untuk agenda nasional yang berlapis: penanggulangan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang melanda pelosok, hingga pengamanan Pilpres, Pileg, dan Pilkada serentak.

Peluang terbesar sebenarnya ada di tangan Kapolres ketiga, AKBP Stephanus Luckyto Bu’at (April 2025 – Juli 2026). Situasi daerah yang relatif kondusif memberinya ruang ideal untuk fokus. Namun sayang, sepanjang 15 bulan masa jabatannya, berkas penyelidikan Stoner justru tidak pernah dibuka kembali ke permukaan.

Kini, momentum ada di tangan AKBP Yoseph Adi R. Sudrajat. Publik tidak hanya butuh gebrakan viral sesaat. Polres Toraja Utara dituntut menjadikan momentum ini sebagai titik akhir untuk melunasi utang keadilan kepada keluarga Stoner Sammen, dan membuktikan bahwa hukum di Bumi Pongtiku tidak akan membiarkan keadilan kedaluwarsa.

(Yohanis Battung)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.