Wujud Solidaritas Sejati Kasiturusan Pia Bebo’ Si Kamali’ Hadir Memeluk Duka Korban Kebakaran di Lo’ko’ Pandan Sangalla Utara

oleh -485 Dilihat

Media Humas Polri // Sulsel

Di saat kepulan asap duka masih menyisakan perih di ingatan, di sanalah makna sejati dari sebuah kekeluargaan diuji. Bukan pada saat tawa dan pesta, melainkan pada saat air mata jatuh dan harapan seakan runtuh. Prinsip luhur itulah yang kembali dihidupkan oleh keluarga besar Kasiturusan Pia Bebo’ Si Kamali’.

Di bawah langit Sangalla Utara yang sendu, pada hari Minggu yang penuh empati, 25 Oktober 2026, rombongan pengurus Kasiturusan Pia Bebo’ Si Kamali’ melangkahkan kaki dengan penuh ketulusan menuju Lingkungan Lo’ko’ Pandan, Kelurahan Bebo’, Kecamatan Sangalla Utara, Kabupaten Tana Toraja. Tujuan mereka hanya satu, memeluk duka saudara mereka yang baru saja kehilangan tempat berteduh akibat amukan si jago merah.

Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah panggilan jiwa, panggilan darah sebagai satu rumpun Pia Bebo’ yang telah bersepakat untuk selalu ada, sehidup semati, dalam suka maupun duka.

Di hadapan puing-puing rumah yang kini hanya menyisakan arang dan kenangan, perwakilan pengurus yang diwakili oleh Novita Salinding dan rekan-rekannya menyerahkan uluran kasih berupa santunan tunai. Bantuan itu mungkin tidak akan mampu mengembalikan rumah panggung yang telah rata dengan tanah, namun ia adalah simbol bahwa korban tidak pernah berjalan sendirian dalam menghadapi cobaan ini.

“Inilah duka kita bersama. Luka yang dirasakan keluarga korban adalah luka kita semua. Atas nama Kasiturusan Pia Bebo’ Si Kamali’, kami datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi membawa pesan bahwa kita adalah satu keluarga besar. Kita saling menopang, saling menguatkan. Jangan dilihat dari besar kecilnya nilai yang kami bawa, lihatlah dari dalamnya ketulusan hati kami sebagai saudara,” tutur Novita Salinding dengan suara bergetar penuh empati, mewakili seluruh keluarga besar Pia Bebo’ Si Kamali’.

Pesan itu disambut dengan isak haru. Keluarga korban yang masih dalam suasana berduka, tak kuasa menahan rasa syukur mereka.

“Kami tidak menyangka perhatian sebesar ini. Di saat kami kehilangan segalanya, keluarga besar Pia Bebo’ Si Kamali’ datang merangkul kami. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih banyak. Hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang mampu membalas segala kebaikan tulus ini,” ucap perwakilan keluarga korban dengan mata berkaca-kaca.

Aksi kemanusiaan ini sejatinya adalah cerminan dari falsafah hidup orang Toraja, yakni Misa’kada dipotuo, Pantan kada dipomate – bersatu dalam kebersamaan, saling menopang dalam kehidupan. Kasiturusan Pia Bebo’ Si Kamali’ ingin menegaskan bahwa organisasi kekerabatan bukan hanya ada untuk urusan adat dan pertemuan rutin, tetapi harus menjadi garda terdepan ketika salah satu anggotanya tertimpa musibah

Melalui momentum ini, diharapkan tali persaudaraan antar warga Kelurahan Bebo’ semakin kokoh terajut, semakin kuat mengakar, dan mampu menjadi inspirasi serta teladan bagi komunitas di Tana Toraja untuk senantiasa peka dan tanggap terhadap penderitaan sesama.

Jejak Musibah yang Membekas

Musibah pilu itu sendiri terjadi pada hari Senin siang yang terik, sekitar pukul 14.25 WITA. Kala itu, kedamaian di Lingkungan Lo’ko’ Pandan mendadak pecah oleh teriakan histeris warga.

Satu unit rumah panggung kayu milik Yakobus Bara Tiku alias Papa Anti (56), seorang petani sederhana yang menggantungkan hidupnya dari hasil bumi, ludes dilalap api hingga rata dengan tanah. Tak ada satu pun perabot yang berhasil diselamatkan. Kobaran api yang membumbung tinggi bahkan sempat merembet dan membakar bagian atap dapur rumah semi permanen milik tetangganya, Martina Madaun (56).

Menurut keterangan saksi, Hermawati (46), yang saat itu sedang beristirahat di dalam rumahnya, ia tiba-tiba merasakan hawa panas yang begitu menyengat menusuk kulit dari luar. Firasaat buruk pun menyeruak. Ketika ia bergegas keluar, pemandangan mengerikan tersaji di depan mata, rumah panggung tetangganya sudah dalam kondisi terbakar hebat, dengan lidah api yang menari-nari ganas.

Dengan panik, Hermawati berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan, memanggil saksi lainnya Bagassangan (36) dan seluruh warga sekitar. Jeritan itu membangunkan seisi kampung.

Warga dengan peralatan seadanya berusaha memadamkan api sembari melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang. Sekitar pukul 14.50 WITA, dua unit armada Pemadam Kebakaran Kabupaten Tana Toraja tiba di lokasi, bersama personel Polsek Sangalla. Dengan dibantu warga yang bahu-membahu secara gotong royong, proses pemadaman berlangsung dramatis dan intensif.

Butuh waktu hampir setengah jam bagi petugas untuk menjinakkan amukan api. Sekitar pukul 15.20 WITA, api akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya. Namun, rumah panggung beserta seluruh isinya telah menjadi abu. Beruntung, dalam peristiwa yang menghanguskan harta benda itu, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka. Namun kerugian materiil ditaksir tidak sedikit, yakni sekitar Rp200.000.000 untuk rumah panggung dan Rp15.000.000 untuk rumah semi permanen. Seluruh rangkaian evakuasi dan pengamanan baru dinyatakan selesai pada pukul 18.20 WITA dalam keadaan aman dan kondusif.

Pesan Kamtibmas di Musim Kering

Merespons musibah yang terjadi di tengah musim kemarau yang cukup ekstrem ini, Kapolres Tana Toraja AKBP Arwansa, S.H., S.I.K., M.H., menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam.

“Kami dari jajaran Polres Tana Toraja menyampaikan rasa simpati dan keprihatinan yang mendalam kepada keluarga korban di Sangalla Utara. Peristiwa ini menjadi pengingat yang sangat berharga bagi kita semua, terlebih di tengah kondisi cuaca kering saat ini di mana potensi picuan api sekecil apa pun sangat cepat menyebar dan membesar,” ujar AKBP Arwansa dengan nada prihatin.

Perwira menengah Polri tersebut juga menitipkan imbauan tegas kepada seluruh masyarakat Tana Toraja untuk meningkatkan kewaspadaan dini.

Ia meminta warga untuk memastikan instalasi listrik di rumah terpasang dengan aman dan sesuai standar, tidak meninggalkan kompor dalam keadaan menyala tanpa pengawasan, serta menghindari praktik pembakaran sampah atau pembukaan lahan di area terbuka secara sembarangan yang dapat memicu kebakaran yang lebih besar.

“Sinergi dan kewaspadaan dini dari seluruh elemen masyarakat adalah kunci utama kita bersama untuk mencegah jatuhnya kerugian yang lebih besar, demi mewujudkan Tana Toraja yang aman, tentram, serta selalu kondusif,” tegas Kapolres menutup pernyataannya.

(Yohanis)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.