PFA Polwan Polda Maluku Pulihkan Rasa Aman Anak Pengungsi Pesan Damai Muncul Dari Pohon Harapan 

oleh -88 Dilihat

Ambon //Media Humas Polri

Di tengah situasi pengungsian akibat konflik antarkampung Patahuwe dan Lisabata di Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Polda Maluku tidak hanya mengerahkan personel untuk menjaga keamanan, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis kepada masyarakat terdampak, khususnya anak-anak.

Melalui personel Polisi Wanita (Polwan) Polda Maluku bersama Polwan Polres SBB dan Bagian Psikologi Biro SDM Polda Maluku, Polri melaksanakan Psychological First Aid (PFA) di tenda pengungsian Desa Patahuwe, Selasa (22/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan kemanusiaan Polri dalam membantu anak-anak pengungsi menghadapi tekanan psikologis akibat situasi konflik sekaligus membangun kembali rasa aman dan kenyamanan selama berada di lokasi pengungsian. Sebanyak 57 anak dari jenjang PAUD hingga SMA mengikuti kegiatan yang dikemas secara humanis dan menyenangkan. Mereka terdiri dari 10 anak PAUD, 30 siswa SD, 15 siswa SMP, dan 2 siswa SMA.

Pendampingan dilakukan melalui berbagai aktivitas, seperti relaksasi, Brain Gym, Touch for Health, serta permainan yang dirancang untuk membantu anak-anak mengurangi ketegangan, membangun interaksi positif, dan menciptakan suasana yang lebih nyaman di tengah kondisi pengungsian.

Selain pendampingan psikologis, personel Polri juga membagikan makanan ringan kepada anak-anak sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak konflik.

Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah saat anak-anak diajak menuliskan harapan mereka pada kertas sticky note untuk kemudian ditempelkan pada Pohon Harapan.

Dari tulisan-tulisan sederhana itu muncul pesan yang kuat tentang kerinduan terhadap perdamaian dan keinginan untuk kembali ke kampung halaman.

Salah seorang anak menuliskan harapannya agar dapat kembali melihat kehidupan yang damai bersama saudara-saudaranya dari Lisabata.

“Harap saya bisa melihat kita berdamai selalu dengan basudara Lisabata.”

Anak lainnya menuliskan harapan agar keluarganya dapat segera kembali ke kampung halaman, rumah mereka dibangun kembali, dan seluruh masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai.

“Harapan dari aku semoga kami semua bisa pulang ke kampung halaman dan semoga rumah kami bisa bangun kembali dan kita semua hidup dengan damai, Amin.”

Bagi Polda Maluku, harapan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik penanganan keamanan, terdapat dimensi kemanusiaan yang harus mendapatkan perhatian. Anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan ruang aman untuk memulihkan kondisi emosional sekaligus tetap memiliki harapan terhadap masa depan.

Karo SDM Polda Maluku Kombes Pol Dicky Irawan Kesuma, S.I.K., M.Si., mengatakan pendampingan psikologis merupakan bagian dari kehadiran Polri dalam memberikan perlindungan secara menyeluruh kepada masyarakat yang terdampak situasi konflik.

“Polri hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat yang terdampak, khususnya anak-anak, mendapatkan dukungan dan pendampingan agar mereka dapat melewati situasi ini dengan lebih tenang. PFA menjadi salah satu bentuk kehadiran Polri untuk membantu memulihkan rasa aman dan membangun kembali kepercayaan diri anak-anak,” ujar Dicky.

Menurutnya, kondisi psikologis anak-anak perlu mendapatkan perhatian karena pengalaman berada di tengah situasi konflik dapat memengaruhi rasa aman dan kenyamanan mereka.

“Kita ingin anak-anak tetap memiliki ruang untuk bermain, belajar, berekspresi dan menyampaikan harapan. Pesan damai yang mereka tuliskan melalui Pohon Harapan menunjukkan bahwa anak-anak pada dasarnya menginginkan kehidupan yang aman, kembali ke rumah dan hidup berdampingan dengan basudara mereka,” katanya.

Karo SDM menegaskan, pendampingan psikologis akan terus menjadi bagian dari pendekatan kemanusiaan Polri dalam penanganan masyarakat terdampak konflik, dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan kondisi di lapangan.Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, S.I.K., mengatakan kegiatan PFA menunjukkan bahwa penanganan situasi konflik tidak hanya berorientasi pada aspek keamanan, tetapi juga pemulihan kondisi sosial dan kemanusiaan masyarakat.

“Kehadiran Polri di tengah masyarakat terdampak konflik tidak hanya untuk memastikan situasi tetap aman dan kondusif, tetapi juga memberikan dukungan kemanusiaan. Harapan yang ditulis anak-anak Patahuwe menjadi pesan yang sangat berarti bahwa mereka ingin kembali ke rumah, hidup aman dan berdamai dengan basudara mereka,” ujar Rositah.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi yang telah kondusif dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan.

“Mari kita jaga anak-anak dari dampak lanjutan konflik. Jangan biarkan mereka mewarisi persoalan orang dewasa. Pesan damai yang disampaikan anak-anak ini harus menjadi semangat bersama untuk menjaga persaudaraan dan menyelesaikan setiap persoalan melalui mekanisme yang aman, damai dan sesuai hukum,” tegasnya.

Rositah menambahkan, Polri bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus mengedepankan langkah-langkah yang bersifat preventif, humanis dan persuasif dalam menjaga keamanan sekaligus mendukung pemulihan masyarakat terdampak.

Kegiatan PFA ditutup dengan foto bersama personel Polri dan anak-anak pengungsi. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar.

Melalui kegiatan tersebut, Polda Maluku menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Polri secara utuh di tengah masyarakat—menjaga keamanan, memberikan perlindungan, sekaligus menghadirkan dukungan kemanusiaan bagi warga yang membutuhkan.

Di tengah situasi pengungsian, Pohon Harapan yang dipenuhi tulisan anak-anak menjadi simbol sederhana bahwa harapan untuk kembali pulang, hidup aman dan berdamai masih tetap hidup.

(OngenLeano)


jasa pembuatan website

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.