Media Humas Polri//Banjarmasin
Kabut asap kembali menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat di sejumlah
wilayah Kalimantan. Di tengah kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa, pelajar, dan masyarakat
umum di Banjarmasin memilih merespons dengan cara sederhana: turun langsung ke jalan dan
membagikan masker kepada masyarakat.
Gerakan tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Maba Peduli Banjarmasin. Dalam
perkembangannya, gerakan ini kini hadir dengan nama Ikatan Mahasiswa Peduli Indonesia
(IMPI), sebagai wadah kerelawanan yang ingin membuka ruang lebih luas bagi mahasiswa,
pelajar, hingga masyarakat umum untuk terlibat dalam aksi sosial.
Melalui aksi bertajuk “Peduli Kabut Asap Kalimantan”, sebanyak 1.000 masker dibagikan kepada
masyarakat. Aksi tersebut dipusatkan di kawasan lampu merah Fly Over Banjarmasin, mulai
sekitar pukul 17.00 WITA hingga kegiatan selesai.
Sebanyak 55 relawan terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar
belakang, di antaranya mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Universitas Islam
Kalimantan (UNISKA), Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Universitas Terbuka (UT),
pelajar, serta masyarakat umum.
Bagi para relawan, pembagian masker bukan sekadar kegiatan membagikan alat pelindung
pernapasan. Aksi ini menjadi bentuk respons terhadap kondisi lingkungan dan kesehatan
masyarakat yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Antusiasme masyarakat pun menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian dalam pelaksanaan
aksi. Tidak hanya menerima masker, sejumlah masyarakat juga menunjukkan ketertarikan untuk
ikut menjadi relawan maupun mengajak kolaborasi dalam kegiatan sosial berikutnya.
Besarnya respons tersebut bahkan membuat proses perekrutan relawan harus dihentikan
sementara setelah jumlah relawan yang terlibat mencapai 55 orang.
Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial masih memiliki ruang yang besar di tengah
masyarakat. Gerakan yang pada awalnya berangkat dari kelompok mahasiswa baru tersebut
perlahan berkembang menjadi gerakan yang melibatkan lebih banyak elemen masyarakat.
Bagi IMPI, aksi ini juga membawa pesan yang lebih besar tentang bagaimana mahasiswa
seharusnya mengambil peran di tengah persoalan sosial.
Mahasiswa tidak hanya memiliki ruang untuk menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan
yang terjadi di masyarakat. Lebih dari itu, mahasiswa juga memiliki kesempatan untuk hadir
Halaman 1 dari 2
secara langsung, mengambil bagian, dan memberikan manfaat meskipun melalui langkah yang
sederhana.
“Kami ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa menyampaikan kritik. Ketika
ada persoalan di tengah masyarakat, kita juga harus mampu hadir dan melakukan sesuatu
yang nyata, sekecil apa pun itu.”
— Fajar, Koordinator Ikatan Mahasiswa Peduli Indonesia (IMPI)
Pembagian 1.000 masker tersebut menjadi salah satu langkah awal IMPI dalam memperluas
gerakan kerelawanan. Dari aksi yang sebelumnya dilakukan oleh Maba Peduli, kini ruang gerak
tersebut mulai dibuka lebih luas dengan melibatkan mahasiswa lintas perguruan tinggi, pelajar,
dan masyarakat umum.
Semangat yang dibawa pun tetap sama: “Sedikit aksi, besar arti untuk IMPI kita menggapai cita.”
Sebab, bagi para relawan, kepedulian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang,
ia cukup dimulai dari satu masker yang diberikan kepada seseorang di tengah jalan, satu tangan
yang bersedia membantu, dan satu keputusan untuk tidak hanya melihat persoalan dari
kejauhan.
Di tengah kabut asap yang menyelimuti Kalimantan, 1.000 masker mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi mereka yang terlibat, aksi tersebut menjadi pengingat bahwa mahasiswa dan anak
muda masih memiliki pilihan untuk hadir—bukan hanya sebagai kelompok yang bersuara, tetapi
juga sebagai bagian dari masyarakat yang ikut bergerak.
Naskah Rilis Berita Pers • Ikatan Mahasiswa Peduli Indonesia (IMPI) • Banjarmasin, Kalimantan Selatan
(irfani)











